Apa rahasia Jepang berprestasi di bidang olah raga Pembinaan usia sekolah

Apa rahasia Jepang

Image source: http://3.bp.blogspot.com/-wrPzfUFeJQU/UP5Uh_Z_vFI/AAAAAAAAARo/BzmgPxBQvFg/s400/Rahasia+Sehat+Orang+Jepang.jpg

Apa rahasia Jepang berprestasi dalam bidang olah raga Pembinaan usia sekolah

Sudah
menjadi pengetahuan dengan, Jepang artinya galat satu Negara dengan prestasi
olah raga yang nir hanya diperhitungkan dalam level asia melainkan maupun level mayapada.
Sebutlah contoh yang paling praktis kita jangan lupa prestasi terbaru Jepang dalam piala
mayapada sepakbola 2010, hanya satu-satunya wakil Asia yang lolos ke babak
perempat final kejuaran tersebut. Juga tak kalah prestisius, tim sepakbola
perempuan Jepang (Nadesiko) menjadi kuda hitam menjuarai  perhelatan mayapada sepakbola perempuan 2011 yang
baru saja usai dalam German. Apa kunci keberhasilannya? Tentu bukanlah cara instant
dengan metode naturalisasi yang selama ini banyak ditiru dibeberapa negara,
melainkan training secara terintegrasi dan berkesinambungan mulai menurut taraf
sekolah dasar sampai menengah atas. Rasanya ini bukanlah metode baru karena dalam negara
kita maupun pernah dilaksanakan, namun mengapa bisa efektif? dimana bedanya?< ?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Sejauh
pengetahuan dan pengamatan aku selama tinggal dalam Jepang, mulai menurut sekolah
dasar kelas 1 setiap anak diwajibkan buat mengarah satu cabang olah raga yang
diminati menjadi aktivitas ekstra kulikulernya dan setiap akhir pekan
melaksanakan aktivitas latihan kemudian dalam periode pribadi melaksanakan
pertandingan persahabatan dengan sekolah lain dan atau mengikuti kejuaran olah
raga taraf sekolah. Begitupun ketika mereka naik taraf ke jenjang sekolah
menengah pertama atau menengah atas, pola yang sama masih bisa ditemukan malah
dengan porsi latihan dan jumlah cabang olah raga yang lebih banyak dibandingkan
ditingkat dasar. Sehingga, jangan heran bila anda yang pernah berkunjung ke
Jepang, akan praktis menemukan anak sekolah membawa tas besar berisi perlengkapan
olah raga. Konsekuensinya, pola training ini akan memudahkan bagi pemerintah
dalam menyeleksi calon atlet buat disertakan dalam kejuaran nasional atau
mayapada mewakili Jepang. Dalam peribahasa yang popular dalam negeri kita sekali
merangkuh dayung 2 3 pulau terlampaui, cukup dengan training yang
terintegrasi dengan system pendidikan, bibit unggul mampu disiapkan secara
efektif.

Tentu
saja, metode training usia dinipun nir akan efektif tanpa dukungan wahana
dan prasarana olah raga yang memadai. Sebagai gambaran, dalam Jepang, fasilitas
pendidikan khususnya wahana olah raga dirancang seragan dalam setiap sekolah dalam
berbagai jenjang baik buat sekolah yang dalam terletak dalam kota ataupun dalam
pedesaan. Gedung serbaguna yang bisa dipakai buat pertandingan badminton,
bola voli, bulu tangkis, tenis meja, dan olah raga lainnya termasuk lapangan
olah laga buat baseball, tenis lapangan artinya fasilitas harus dalam setiap
sekolah. Sehingga, janganlah heran dalam Jepang kompleks sekolah, fasilitas publik,
dan perkantoran lebih mewah dan luas, sedangkan tempat tinggal buat wilayah tinggal
mereka sehari berukuran type 36 pun (2 kamar tidur) telah lebih menurut cukup buat
warga jepang dalam biasanya. Hal lainnya, atlet-atlet senior dilibatkan
dalam proses training dalam sekolah dengan diangkat menjadi instruktur . Yang lebih
ekstrim bintang olahraga yang telah mendunia dalam berbagai cabang, sengaja
diturunkan ke sekolah-sekolah melalui workshop singkat, buat menularkan
motivasi kepada anak-anak sekolah agar bisa berprestasi pula dimasa mendatang,
sesuai peribahasa pula,tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.
Sungguh taktik cerdas yang patut ditiru.

Nampaknya,
seluruh pendekatan yang diterapkan pemerintah Jepang dalam membina prestasi olah
raga, bukanlah hal yang sulit buat diaplikasikan ditanah air, tinggal , political
will dan keseriusan pemerintah dalam merancang acara training yang
berkesinambungan serta dukungan kebijakan acara melalui pembangunan fasilitas
olah raga yang memadai, kasarnya  jangan
setiap sekolah bila sulit terealisasi, cukup disatu kecamatan bangun pusat olah
raga terpadu, menjadi akibatnya warga mulai menurut anak-anak sampai orang dewasa pun mampu
menyalurkan minat dan bakatnya dalam berolah raga, dan dengan catatan,
pembangunan wahana tersebut jangan diembel-embeli dengan KORUPSI. Hemat aku,
 menurut 200 juta lebih penduduk dalam tanah
air , 5 % saja sasaran atlet unggul mampu dipersiapkan, rasanya bukan sasaran
muluk-muluk bukan? Mudah-mudahan tulisan ini dibaca maupun pak Menpora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *