Aturan Servis Baru, Golden Ratio, dan Keuntungan bagi Pebulutangkis Indonesia

Aturan Servis Baru,

Image source: http://surabayaonline.co/wp-content/uploads/2017/12/SERVIS-BADMINTON-800×445.jpg

Aturan Servis Baru, Golden Ratio, dan Keuntungan bagi Pebulutangkis Indonesia

Aturan servis dalam olahraga bulu tangkis akan resmi dilakukan dalam turnamen All England 2018 pekan depan. Inti dari aturan tadi adalah data pertemuan shuttlecock dan ketua raket (impact), nir boleh lebih tinggi dari 115 cm diukur bawah. Sebelumnya, tinggi servis disesuaikan beserta antropometri tubuh masing-masing, yaitu di rusuk terbawah.

Belum jua dilaksanakan peraturan ini banyak menuai kontra dari para pelatih serta para pemain. Hal ini terutama berlaku buat para pemain-pemain yang mempunyai postur tinggi jangkung, terutamanya pemain Eropa. Mengapa hal ini menjadi kesulitan bagi para pemain jangkung dan bisa jusrtu memberikan keuntungan bagi para pemain kita? Mari sedikit kita lihat aturan servis dan sedikit anatomi tubuh manusia serta apa hubungannya beserta deret Fibonacci yang terkenal itu.

Sebelum ke sana sedikit kita mengerti apa deret Fibonacci. Deret Fibonacci ditemukan sang Leonardi Pisano atau lebih dikenal beserta sebutan Leonardo Fibonacci dalam abad 12 di Italia. Pada dasarnya deret fibonacci merupakan barisan bilangan sederhana dimulai dari 0 dan 1 dan suku berikutnya merupakan jumlah dua bilangan sebelumnya.

0 1 1 2 3 5 8 13 21 34 55 89 144 dan seterusnya…

Kehebatan deret ini adalah jika angka deret di depannya dibagi angka di belakangannya dalam akhirnya akan mendapatkan suatu nilai yang tidak jarang disebut Golden Ratio, yakni: 1.6180339…

Tubuh manusia sendiri menurut beberapa teori boleh dibilang sebagai penjabaran Golden Ratio tadi. Manusia yang proporsional mempunyai perbandingan tubuh yang mengikuti Golden Ratio. Kita ambil paling gampang buat menggambarkan tubuh manusia adalah kalau dari pusar kita ke bawah adalah 100 cm, maka tinggi dari pusar kita ke ujung ketua kita adalah 61,8 cm. kalau dibagi (100/61.8) maka akan dapat angka 1.618 sekian. Kalau nir percaya coba ukur sekarang tanah ke pusar anggap bernilai x cm, lalu ukur dari pusar ke ujung ketua anggap y cm. setelah itu bagi x/y nilainya akan mendekati 1.618..

Mengapa perbandingan ini menjadi penting buat melihat bagaimana servis dalam bulu tangkis merugikan atau menguntungkan. Coba lihat tabel di bawah ini:

Keterangan: semua ukuran dalam cm

Tinggi badan pemain,
Jarak dari telapak kaki sampai pusar,
Jarak dari pusar ke ujung ketua,
Selisih jarak antara peraturan (115 cm) terhadap pusar, positif berarti di atas pusar, negatif berarti di bawah,
Golden Ratio.

Dari tabel terlihat jika pemain sampai ke tinggi 186 cm maka secara hitungan, servis masih bisa dilakukan di atas pusar, tetapi kalau lebih dari itu maka servis wajib dilakukan di bawah pusar. Hal ini kentara sangat merugikan para pemain jangkung alasannya adalah bisanya mereka melakukan servis tepat di tulang rusuk terbawah (aturan lama) yang berarti masih di atas pusar.

Bayangkan kalau pemain yang tingginya sampai 2 meter, maka mau nir mau dia wajib melakukan servis sampai 9 cm di bawah pusar, sangat merepotkan dan pastinya mereka akan tidak jarang terkena fault alasannya adalah melanggar batas.

Tetapi buat pemain Indonesia apalagi yang mempunya tinggi rata-rata antara 165-180 cm (sebagai perbandingan, Kevin mempunyai tinggi 170 cm), bisa jadi merupakan suatu keuntungan. Bagi yang bertinggi 170 mereka masih bisa servis sekitar 9 cm dari atas pusar atau kurang lebih seperti peraturan yang seperti sekarang.

Data dan tabel di atas adalah mungkin nir tepat sekali, alasannya adalah kondisi dan anotomi bentuk pemain nir seratus persen sama, tapi setidaknya bisa menggambarkan apa yang terjadi dana pa yang menjadi kesulitan para pemain dalam mengadopsi peraturan servis yang baru ini.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *