Berapa Lama Menanti Chong Wei, Peter Gade, Lin Dan serta Taufik Hidayat Baru

Berapa Lama Menanti

Image source: http://mediaserver.fxstreet.com/Reports/974fee59-84f1-4a1f-9b5d-025d75888b69/eursd1_20150727061204.png

Berapa Lama Menanti Chong Wei, Peter Gade, Lin Dan dan Taufik Hidayat Baru

Sektor tunggal putra dunia pernah diwarnai persaingan sengit antara empat pemain terbaik dari empat negara berbeda. Taufik Hidayat dari Indonesia, Peter Gade Christensen dari Denmark, Lee Chong Wei dari Malaysia dan Lin Dan dari Tiongkok.

Keempat pemain ini selalu bersaing di pentas bulu tangkis setidaknya sejak Taufik dan Peter Gade mulai mencuri perhatian menjelang tahun 2000 selanjutnya kemunculan Lin Dan dan Chong Wei, hingga Taufik purna tugas pada 2012, tahun yang sama waktu Gade maupun gantung raket.

Selama rentang waktu tersebut, pertemuan di antara keempat pemain ini selalu ditunggu-tunggu. Masing-masing dari antara mereka mempunyai keunggulan dan kelebihan yang nir dimiliki yang lain. Saat mereka bertemu nir hanya rivalitas untuk memenangkan laga yang dicari, maupun kepiawain masing-masing yang menarik disaksikan.

Misalnya, Taufik yang nir hanya kencang dalam smes maupun mempunyai powerbackhand yang istimewa. Kecepatan backhandsmes Taufik pernah mencapai angka 206 km/jam, anugerah yang melambungkan namanya dan virtual yang hingga kini masih terus dikejar para penerus. Sementara di sisi berbeda, Gade yang jangkung itu sangat harmonis mengggabungkan antara serangan cepat, gerakan kaki yang halus dan tekanan konstan. Tipuan-tipuan dan pancingan-pancingannya sangat jeli dan terukur. Melihat Gade bermain kita nir hanya melihat lawannya jatuh bangun menjangkau ruang-ruang sempit, maupun bagaimana Gade memainkan harmoni yang rupawan itu.

Dari segi konsistensi Chong Wei dan Lin Dan unggul. Rivalitas keduanya bahkan masih berlangsung hingga kini. Terakhir kali kita menyaksikan partai el clasico di arena bulu tangkis yakni di semi final Olimpiade Rio de Janeiro kemudian. Saat itu Chong Wei sukses mengandaskan Super Dan, sekaligus mendekatkan legenda Malaysia itu dengan medali emas pertama dalam karirnya setelah di dua edisi sebelumnya meraih perak. Itu maupun setelah kalah dari Lin Dan.

Bagi Peter Gade menyebut dua edisi Olimpiade sebelum di Rio itu mempunyai arti sendiri. Bisa jadi mirip membuka luka lama. Namun di situlah kita mendapati bagaimana tingkat persaingannya dengan Taufik dan Lin Dan.

Di Olimpiade Athena Gade nyaris tembus semi final andai saja ia nir lebih dulu bertemu Taufik. Setelah lolos dari hadangan Chien Yu-Hsiu dari Taiwan dan Nikhil Kanetkar dari India, Gade bertemu Taufik di semi final. Saat itu patut diakui Taufik sedang on fire. Gade takluk straight set dengan skor identik 15-21 dan 15-21. Lolos dari Gade, Taufik kemudian bertemu Shon Seung-mo dari Korea Selatan dan memenangkan pertarungan itu untuk mempersembahkan emas. Sementara pemain Indonesia lainnya, Sony Dwi Kuncoro kebagian medali perunggu.

Empat tahun kemudian, tahun 2008, di Tiongkok. Giliran Lin Dan yang jadi bahan pembicaraan. Gade kembali menelan pil getir setelah kandas di babak yang sama dari Super Dan yang kemudian menjadi kampiun.

Di Olimpiade Rio, giliran Lin Dan dan Taufik bersaing di semi final. Julukan sebagai Mr.Runner-up semakin pantas disematkan kepada Lee setelah di final kalah dari Chen Long. Sebelum di Rio, Lee lebih dulu mendapatkan julukan itu setelah kandas di final Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta. Hingga periode itu tercatat Lee sudah enam kali kandas di partai puncak turnamen besar, di antaranya empat kali di Kejuaraan Dunia dan dua kali di Olimpiade.

Kekalahan di Brasil itu menandai penurunan performa Lin Dan yang sebelumnya sangat superior. Dibandingkan ketiga rekan segenerasi itu, pemain yang kini berusia 33 tahun itu paling poly mengoleksi gelar. Selain dua keping emas Olimpiade, di lemari prestasinya ada lima gelar Juara Dunia (2006, 2007, 2009, 2011 dan 2013), dan jumlah yang sama untuk gelar All England yang diukirnya tahun 2004, 2006, 2007, 2009, dan 2012.

Selain dua ajang besar itu hampir semua turnamen mayor sudah pernah dimenangi. Puncaknya pada usia 28 tahun ia sudah memenangkan sembilan turnamen bergengsi mulai dari Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Piala Thomas, Piala Sudirman, Super Series Finals, All England, Asian Games hingga kejuaraan Asia. Ia menjadi pebulutangkis pertama yang menorehkan catatan impresif itu dan berhak atas predikat Super Grand Slam.

Tidak hanya Lin Dan yang bisa menguasai puncak bulu tangkis dunia. Taufik dan Peter Gade maupun pernah berada di urutan teratas. Taufik baru bisa berada di puncak pada tahun 2000, tiga tahun setelah Gade merasakannya. Tidak hanya di tingkat dunia, di level Eropa, sejak 1998 hingga 2010 Gade ialah penguasanya.

 Meski Lin Dan paling lama menyandang status pemain tunggal putra nomor satu, Chong Wei-yang waktu ini masih di puncak dunia-pernah menjadi nomor satu selama 199 pekan secara beruntun sejak 21 Agustus 2008 hingga 14 Juni 2012. Sementara di arena Asian Games, Taufik paling superior dari ketiganya karena berhasil menggondol tiga medali emas.

Paparan singkat di atas ialah bagian dari jejak prestasi yang diukir dari persaingan di antara mereka. Dari lapangan sebagai lawan hubungan mereka kemudian berlanjut ke luar lapangan sebagai sahabat.

Kedekatan relasi mereka waktu ini nir hanya memantik rasa kagum, serentak mengundang rasa rindu. Kapan pencinta bulu tangkis dunia kembali mendapatkan tontonan menarik dari para pemain hebat mirip mereka?

Saat ini dan mungkin sampai satu atau dua tahun mendatang kita masih bisa menyaksikan Lin Dan dan Chong Wei bersaing di senja karir mereka. Namun setelah itu, siapa saja yang akan mengisi panggung bulu tangkis dunia?

Tidak simpel memang menjawab pertanyaan ini. Masih bercokolnya Lee di puncak dunia menawarkan bahwa belum ada generasi baru yang benar-benar istimewa bisa menggusur para pemain senior mirip Lee, Lin Dan bahkan Jan O Jorgensen dari Denmark. Di sisi lain keempat pemain itu, begitu maupun pebulu tangkis legendaris lainnya, mirip terlahir dengan anugerah istimewa.

Tentu saja perjuangan dan kerja keras mereka patut diacungi jempol. Tentang ini Lee dan Lin menjadi contoh paling aktual. Selalu gagal berkali-kali bahkan dengan cara dramatis sekali pun, Lee tetap tegar. Begitu maupun ketika tersandung duduk perkara doping nir membuatnya patah arang.

Saat acara Yonex The Legend's Vision, di Jakarta, Senin (17/8) tahun kemudian yang maupun dihadiri Taufik, Peter Gade, minus Lin Dan, Lee berkata bahwa dirinya perlu berjuang keras untuk mempersiapkan diri. Ia tahu bahwa dalam setiap turnamen hanya ada satu kampiun sehingga persiapan yang matang dan perjuangan selama pertandingan ialah harga mati.

Selain butuh kedisiplinan ekstra, patut diakui bulu tangkis dunia waktu ini memang sedang krisis bibit-bibit istimewa. Tidak hanya Indonesia setelah era Taufik, Tiongkok, Malaysia dan Denmark maupun mencicipi hal yang sama. Belum ada penerus dengan bakat dan kemampuan mirip Lin Dan, Peter Gade dan Chong Wei.

"Semua orang nir tahu betapa sulitnya untuk berada di atas dalam waktu yang lama. Mungkin untuk memenangkan satu atau dua turnamen simpel, tetapi sulit untuk melakukannya secara konsisten, ungkap Lee kepada Berita Harian (Jumat, 3 Februari 2017, mirip dikutip dari Djarumbadminton.com.

Tentang bulu tangkis Malaysia, Lee mempunyai kesaksian betapa susahnya negara tersebut mencari penerusnya. "Semua pemain muda yang ada di kita sekarang masih jauh tertinggal di belakang saya, malah untuk menyaingi saya ketika latihan pun nir bisa."

Pemain yang kini bergelar Dato itu kemudian meminta Asosiasi Badminton Malaysia (BAM) untuk melupakan cita-cita mendapatkan suksesor selevelnya. Lebih berfaedah mencari sebanyak-banyaknya pemain muda dan menempa mereka, ketimbang hanya penekanan pada beberapa pemain.

Saya kira wejangan Chong Wei pada BAM relevan maupun bagi bulu tangkis Indonesia. Gencar melakukan regenerasi agar jangan sampai ada jurang antar generasi mirip pada tunggal putri kita waktu ini. Siapa tahu dari proses berkelanjutan dan berjenjang itu akan lahir para pemain hebat. Walaupun mirip istilah Lee, mendapatkan penerus setingkat empat sekawan itu, hampir tidak mungkin. Sekalipun nanti akan datang maupun para penerus itu, waktunya nir singkat.

"Secara pribadi, saya merasa itu akan memakan waktu 20 sampai 30 tahun lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *