Bola Voli, Pintu Pelatnas Belum Tertutup

Bola Voli, Pintu Pelatnas Belum Tertutup

Image source: https://cdns.klimg.com/bola.net/library/p/headline/0000210223.jpg

Bola Voli, Pintu Pelatnas Belum Tertutup

KOMPAS.com – Tim nasional bola voli Indonesia buat SEA Games 2015 sudah terbentuk sejak enam bulan kemudian. Sebanyak 19 atlet putra & 17 atlet putri terpilih mengikuti pemusatan latihan nasional. Namun, kesempatan mengharumkan nama Indonesia di Singapura, 5-16 Juni, masih terbuka bagi mereka yang tampil baik dalam kompetisi voli Pertamina Proliga trend ini.

Saat menghadapi Jakarta Bank DKI dalam putaran pertama di Malang, Jawa Timur, bulan kemudian, Muhammad Ansori tak bisa melepaskan pandangannya dari Legisya Nur Asyiah. Pelatih Jakarta PGN Popsivo, yang maupun pelatih timnas voli putri, itu terpikat memakai penampilan menawan pemain muda dari tim versus tersebut.

Seusai pertandingan yang dimenangi Popsivo, tiga-0, itu, Ansori menghampiri Eko Waluyo, asistennya di timnas yang kebetulan melatih Bank DKI. “Ko, permainan Legisya maju pesat, ya. Bagaimana kalau kita beri kesempatan beliau masuk pelatnas?” celoteh Ansori. Eko mengiyakan evaluasi positif terhadap atlet berusia 18 tahun itu.

Tahun kemudian, waktu Bank DKI ditangani pelatih Tiongkok, Huang Miancheng, Legisya lebih banyak duduk di bangku cadangan. Kini, dia membayar kepercayaan menjadi pemain primer memakai penampilan apik. Meski masih muda, spike- nya tajam & mau bekerja keras membantu pertahanan memakai penerimaan bola yang mengagumkan.

Peluang Legisya masuk pelatnas nisbi besar. Apalagi, di dalam skuad timnas waktu ini muncul sejumlah pemain yang hanya menjadi pemain cadangan tim masing-masing di Proliga, seperti Siska Putri Rosaningrum, Faiska Dwi Permata Ratri, Nandita Ayu Salsabila, & Tiara Putri Anggraeni.

Tak hanya bagi pemain muda, kesempatan maupun terbuka buat pemain senior. Eko rupanya tertarik memakai penampilan oke pengumpan (setter) Popsivo, Rita Kurniati. Kendati sudah berusia 36 tahun, umpan-umpan mantan pengumpan terbaik nasional itu masih yahud.

Ia bahkan masih seringkali memperagakan trik “menipu” versus memakai menempatkan bola di area yang kosong. Kematangannya itu boleh dibilang menjadi galat satu kunci sukses Popsivo buat berada di puncak klasemen putri.

Ansori pun setuju. Rita dipercaya masih pantas buat menggantikan galat salah satu Komang Bumi Rekta atau Zara Alfa Lautania, dua pengumpan timnas waktu ini yang penampilannya angin-anginan. “Setter itu sangat vital lantaran bertugas mengatur ritme permainan & memilih mengagumkan-tidaknya agresi. Soal kondisi fisik Rita yang jauh menurun, itu bisa disiasati memakai sistem rotasi pemain,” ujar Ansori.

Di bagian putra, pelatih timnas Ibarsjah Djanu Tjahjono maupun belum menutup pintu pelatnas. Hanya saja, dia cenderung mengutamakan pemain muda ketimbang menyampaikan kesempatan lagi buat atlet senior. Ayip Rizal, misalnya, meski sudah berusia 30 tahun, masih sanggup tampil di level tertinggi memakai Jakarta Pertamina Energi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *