3 Harapan Fans Bulutangkis Indonesia di Susi Susanti

3 Harapan Fans Bulutangkis Indonesia pada Susi Susanti

Berakhirnya turnamen World Superseries Finals 2016 di Dubai akhir pekan kemarin menandai tuntasnya seluruh kalender kompetisi bulutangkis di bawah Badminton World Federation. Prestasi bulutangkis Indonesia di tahun 2016 ini dapat dikatakan bagus karena telah berhasil meraih banyak gelar juara di turnamen-turnamen bergengsi, termasuk satu medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. 

Seiring bersama itu, masyarakat Indonesia khususnya para fans bulutangkis menanti bagaimana bulutangkis Indonesia pada tahun 2017, terlebih lagi bersama kepemimpinan baru di organisasi induk cabang olahraga bulutangkis Indonesia, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Dalam Musyawarah Nasional PBSI yang diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 30-31 Oktober 2016 kemudian, Wiranto terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PBSI untuk periode 2017-2020, menggantikan Gita Wirjawan yang telah menahkodai PBSI sejak tahun 2012. Pria yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo ini menegaskan bahwa dirinya akan memperkuat organisasi dan menjaga kesolidan agar prestasi internasional semakin banyak diraih oleh para pebulutangkis Indonesia.

Pada awal bulan Desember ini, Wiranto telah mengumumkan susunan pengurus PBSI yang akan bertugas di bawah kepemimpinannya. Nama Susi Susanti, sang legenda bulutangkis Indonesia yang meraih medali emas di Olimpiade 1992 Barcelona muncul sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres). 

Posisi ini sangatlah strategis dan dapat dikatakan menjadi kunci utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan bulutangkis Indonesia. Kabid Binpres bertanggung jawab atas prestasi pemain-pemain Indonesia dalam kurun waktu empat tahun ke depan. Tugas yang diembannya sangat berat dan majemuk, yang terpenting artinya mengkoordinasikan jajaran pelatih yang akan menggembleng para pebulutangkis Indonesia baik di level senior maupun junior.

Ditetapkannya Susi sebagai Kabid Binpres PBSI mengundang berbagai reaksi di kalangan fans bulutangkis Indonesia. Susi menggantikan Rexy Mainaky yang bertugas sebagai Kabid Binpres PBSI periode 2012-2016. Dalam kurun waktu empat tahun tadi, Rexy bisa dibilang telah meraih kesuksesan. Rexy bergabung ke pengurusan PBSI yang dimulai pada 2012, tahun yang kelam bagi bulutangkis Indonesia karena tidak berhasil membawa pergi satu pun medali di Olimpiade 2012 London, pertama kalinya terjadi sejak olahraga tepok bulu ini dipertandingkan di ajang multicabang terbesar sejagad. 

Cita-cita Rexy mengembalikan Indonesia sebagai kekuatan bulutangkis yang disegani pun perlahan-lahan terwujud. Indonesia meraih prestasi indah, diantaranya: jumlah gelar Superseries pada periode 2012-2016 yang lebih banyak dibanding periode sebelumnya; dua gelar juara di Kejuaraan Dunia 2013 Guangzhou dan satu gelar juara di Kejuaraan Dunia 2015 Jakarta; dua medali emas di Asian Games 2014 Incheon; juara umum cabang bulutangkis di SEA Games 2013 Myanmar dan SEA Games 2015 Singapura. Di turnamen beregu, tim Indonesia nyaris saja membawa pergi Piala Thomas 2016 setelah dikalahkan bersama skor tipis 2-3 oleh tim Denmark. Pencapaian tadi tentu wajib diteruskan dan bahkan semakin ditingkatkan di periode 2017-2020 ini.

Ada banyak harapan yang disematkan oleh para fans bulutangkis Indonesia kepada Susi, mantan pebulutangkis kelahiran Tasikmalaya tanggal 11 Februari 1971 ini, sebagaimana terangkum dalam beberapa poin berikut:

1. Memuluskan regenerasi pebulutangkis Indonesia

Susi punya tantangan yang akbar dalam memuluskan regenerasi pebulutangkis Indonesia karena para punggawa yang berprestasi di era Rexy sebentar lagi akan mendekati usia pensiun. Mohammad Ahsan, Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, Greysia Polii dan Nitya K. Maheswari tidak bisa lagi dijadikan tumpuan utama untuk meraih gelar di turnamen akbar. Hendra Setiawan bahkan telah mundur menurut pelatnas PBSI per Desember 2016 ini.

Mulai tahun 2017, para pemain pelapis berusia muda harus mulai diberi target juara (bukan lagi perempatfinalis atau semifinalis) di Superseries dan Kejuaraan Dunia. Mereka harus siap apabila didapuk sebagai pemain penentu poin di kejuaraan beregu seperti Thomas/Uber Cup dan Sudirman Cup. PBSI punya banyak sekali pemain muda berstatus pelapis, jumlahnya bisa sampai 3 pasangan untuk satu nomor ganda. Sayangnya, penampilan mereka masih sering tidak konsisten. Terkadang bisa mengalahkan pemain senior yang berperingkat lebih tinggi menurut mereka, tetapi di turnamen berikutnya malah tersungkur menurut lawan yang sebenarnya sudah beberapa kali pernah mereka kalahkan sebelumnya. Inilah yang menjadi PR bagi para pelatih di era Susi nanti.

Susi juga harus mulai mempersiapkan skuad untuk Asian Games yang akan digelar tahun depan di Jakarta. Tentu akan sangat memprihatinkan bila Indonesia tidak meraih satu pun medali emas ketika ajang itu digelar di kandang sendiri. Jangan sampai itu terjadi. Faktor non-teknis sepertinya wajib mendapat perhatian yang akbar dalam pelatihan menuju Asian Games 2018 nanti. Hal ini karena pebulutangkis Indonesia kadang justru terlihat grogi ketika tampil di Istora Senayan, di hadapan ratusan penonton yang terus meneriakkan yel-yel dukungan sepanjang pertandingan. Perlu jadi catatan bahwa kita gagal meraih satu pun gelar juara di Indonesia Open yang dihelat di Istora Senayan pada tiga tahun terakhir.

2. Membangkitkan sektor tunggal putri

Para fans bulutangkis Indonesia mungkin sudah jenuh bersama info kekalahan para pemain tunggal putri kita di turnamen-turnamen Grand Prix dan Superseries. Kekalahan tadi menjadi lebih memprihatinkan karena sering terjadi ketika melawan pemain-pemain yang bukan menurut negara-negara tradisional bulutangkis seperti Tiongkok, Korea atau Jepang. Saat ini, pemain tunggal putri Indonesia bisa dibilang sudah kalah kelas daripada pesaingnya menurut Taiwan, Thailand, Hong Kong dan India. 

Pemain-pemain Indonesia seperti Lindaweni Fanetri, Hana Ramadhini, Fitriani, dan lainnya sebenarnya punya skill yang juga baik. Namun hal itu tidak cukup karena banyak pengamat yang menilai mereka memilki kelemahan pokok pada kekuatan, daya tahan dan semangat juang. Tunggal putri terbaik Indonesia saat ini yaitu Lindaweni memang meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia 2015 kemudian, tetapi ia gagal total di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, bahkan kalah menurut pemain Vietnam yang jarang berlaga di Superseries. Ini bukti kuat yang tak bisa disanggah bahwa ia tidak punya konsistensi.

Di ajang Olimpiade, terakhir kali atlet tunggal putri Indonesia meraih medali artinya pada tahun 2008 yaitu Maria Kristin Yulianti. Pada tahun 2012, Adrianti Firdasari harus angkat koper lebih dulu dibanding rekan-rekannya sesama tim Indonesia karena ia kalah di babak-babak awal.

Di ajang beregu, tunggal putri juga sangat jarang menyumbang poin bagi tim Indonesia. Bahkan sebelum pertandingan, para analisis pun seolah sudah kompak memprediksi bahwa tim Indonesia akan kecolongan satu poin menurut kekalahan pemain tunggal putri. Sudah sejak tahun 2012, Indonesia tidak lagi bisa menembus babak semifinal Uber Cup dan hal itu karena kita tidak punya tiga (atau setidaknya dua) orang pemain tunggal putri yang bisa diandalkan.

Para fans bulutangkis Indonesia berharap Susi dapat menjadi 'roh' bagi kebangkitan tunggal putri. Statusnya sebagai pemain tunggal putri terbaik Indonesia sepanjang sejarah bersama torehan prestasi yang sangat lengkap ini diharapkan dapat menjadi tuah ketika ia ikut turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah yang rumit di sektor tunggal putri. Sebagai Kabid Binpres, Susi akan lebih sering hadir di pelatnas Cipayung dan berinteraksi bersama para pemain. Semoga saja hal itu dapat membuat para pemain tunggal putri kita terinspirasi dan semakin bersemangat mengejar prestasi.

3. Mendorong pebulutangkis Indonesia bermain rangkap

Dalam beberapa tahun terakhir, fans bulutangkis Indonesia dibuat kagum oleh para pemain Tiongkok, Korea dan Denmark yang bermain rangkap di dua nomor dan sukses meraih prestasi seperti Zhao Yunlei, Zhang Nan, Ko Song-hyun dan Christinna Pedersen. Meskipun harus bermain lebih banyak dibandingkan lawan-lawannya, mereka tetap mampu tampil bersama baik dan bahkan tak jarang menjadi juara di dua nomor berbeda. Bermain rangkap nampaknya sudah menjadi taktik bagi negara-negara tadi. Ada banyak pendapat yang berkata bahwa pemain ganda yang sering tampil di dua nomor akan punya kemampuan yang semakin bagus. Hal ini karena pemain itu terbiasa bersama berbagai macam variasi taktik dan bisa menyesuaikan diri bersama gaya permainan pebulutangkis yang berbeda-beda.

Sayangnya hal ini tidak banyak diterapkan oleh PBSI. Pebulutangkis Indonesia yang turun di nomor ganda hanya bermain pada satu nomor saja: ganda putra, ganda putri atau ganda adonan. Pernah ada beberapa pemain yang bermain rangkap seperti Greysia Polii (ganda putri dan ganda adonan) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo (ganda putra dan ganda adonan), tetapi sifatnya hanya selingan dan untuk satu atau dua turnamen saja. Padahal sebenarnya ada banyak pebulutangkis Indonesia yang punya kemampuan untuk bermain rangkap, dilihat menurut segi skill maupun stamina.

Beberapa waktu yang kemudian pernah ada pendapat bahwa para pebulutangkis Indonesia difokuskan pada nomor andalannya saja agar dapat bermain maksimal mengingat saat itu sudah memasuki persiapan menuju Olimpiade 2016 Rio de Janeiro dan Thomas-Uber Cup 2016. Hal ini tentu sepenuhnya adalah keputusan bijak yang diambil oleh para pelatih bersama mempertimbangkan target yang telah dicanangkan untuk turnamen akbar. Di tahun 2017, fokus Indonesia pada turnamen akbar artinya di Sudirman Cup saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya bila Susi dan para pelatih mulai mendorong para pebulutangkis Indonesia untuk bermain rangkap. 

PBSI bisa menciptakan kombinasi menurut pemain-pemain terbaik yang dimiliki di ganda putra dan ganda putri. Mereka juga bisa dipasangkan bersama pemain-pemain muda bersama tujuan agar dapat transfer ilmu dan pengalaman. Fans bulutangkis Indonesia tentu ingin melihat bagaimana bila Praveen Jordan dicoba main di ganda putra atau Rosyita Eka Putri Sari berlaga di ganda adonan.

Itulah harapan-harapan yang dimiliki oleh para fans bulutangkis Indonesia untuk Susi Susanti yang akan memulai kiprah barunya sebagai seseorang Kabid Binpres di PBSI. Semoga saja kesuksesan Susi sebagai pemain di tahun 90-an bisa berlanjut ke karirnya saat ini. Sebagai fans bulutangkis Indonesia, kita harus selalu menunjukkan dukungan kepada PBSI dalam memajukan bulutangkis Indonesia. Jayalah terus bulutangkis Indonesia!