Didukung 7 Sponsor Dunia, Industrialisasi Bulutangkis Indonesia Dimulai

Didukung 7 Sponsor Dunia, Industrialisasi Bulutangkis Indonesia Dimulai

Image source: https://cdn2.mobilwow.com/images/news/7399.jpg

Didukung 7 Sponsor Dunia, Industrialisasi Bulutangkis Indonesia Dimulai

Ada yg tidak selaras dari Timnas Bulutangkis Indonesia dikala bertarung di ajang All England 2013 yg baru berakhir pekan kemarin. Menyaksikan beberapa pertandingan yg melibatkan para pemain Indonesia, ada belang dalam seragam yg dipakai oleh mereka. Bukan warna jersey yg berganti setiap pertandingan tapi logo di kaus serta raket mereka. Di dada, punggung serta raket pasangan Tontowi-Lilyana misalnya, bukan lagi logo YY seperti yg dari awal selalu mereka kenakan bareng seluruh pemain timnas lainnya. Demikian juga Markis Kido-Pia Zebadiah yg menggunakan produk apparel tidak selaras. Sementara ganda putra Hendra-Ahsan di dada serta punggung mereka masih terpasang logo YY.  Begitupun kepada tim pelatih yg mendampingi, ada yg menggunakan seragam berlogo YY adapula yg berlogo V.

Sebenarnya bukan hal baru apabila dalam sebuah pertandingan bulutangkis para pemain dari negara yg sama mengenakan seragam serta perlengkapan yg disponsori oleh produsen tidak selaras. Tapi hal itu terjadi apabila pemain nir lagi berstatus anggota pelatnas sehingga biasanya memiliki sponsor yg tidak selaras dengan sponsor utama timnas. Maka menjadi unik apabila para pemain Timnas dari Pelatnas yg sama tak lagi mengenakan jersey serta raket dengan logo yg seragam. Ada apa dengan Timnas Bulutangkis kita ?.

Bukan lagi logo "YY" di dada seragam Tontowi & Lilyana. Semenjak 22 Februari 2013 pemegang gelar All England 2012 serta 2013 ini dikontrak oleh Victor, apparel asal Korea Selatan (dok. : www.badmintonindonesia.org)

Kenyataannya mega kontrak dengan Yonex, brand besar asal Jepang ini sudah berakhir. Sejak bulan Februari lalu Timnas Bulutangkis Indonesia tak lagi mengikat kontrak tunggal kolektif dengan Yonex yg sudah menjadi sponsor selama hampir 40 tahun. Lalu apakah ini berarti Timnas Bulutangkis kehilangan sponsor atau mengalami kesulitan finansial ?. Justru kebalikannya, berakhirnya mega kontrak dengan Yonex menjadi awal baru pengelolaan bulutangkis Indonesia. Timnas Bulutangkis Indonesia dibawa memasuki era baru industrialisasi bulutangkis modern.

Menjual Pemain dengan Sponsor Individu

Tak ada lagi sponsor tunggal serta kolektif untuk Timnas Senior Bulutangkis Indonesia. Federasi Bulutangkis Indonesia menerapkan terobosan yg sebelumnya dianggap tabu di pelatnas bulutangkis Cipayung namun sudah menjadi hal biasa pentas olahraga profesional Eropa. PBSI kini menerapkan sistem kontrak individu kepada setiap pemain untuk bebas disponsori produsen apparel tertentu. Bidding pun dilakukan.

Wibawa Indonesia yg merupakan satu dari kekuatan utama bulutangkis dunia dengan banyak pemain top menjadi modal bagi PBSI untuk menjual Timnas bulutangkisnya. Hasilnya luar biasa. Mega kontrak dengan Yonex diakhiri serta Timnas Bulutangkis pun dibanjiri sponsor. Para pemain Timnas Bulutangkis Indonesia kini mengikat kontrak individu dengan sejumlah merek ternama.

Era baru industri bulutangkis Indonesia dimulai. Seperti disebutkan di halaman resmi PBSI, Victor, Li-Ning, Babolat, Fly Power, Astec, Reinforce Speed ialah 6 sponsor baru bagi pemain Timnas Bulutangkis Indonesia. Mulai 22 Februari 2013 merek-merek tersebut resmi menjadi penyokong pemain Timnas Bulutangkis Indonesia.

Namun demikian bukan berarti Yonex undur diri dari bulutangkis Indonesia. Meski tak lagi menjadi sponsor tunggal, Yonex berhasil mendapatkan tanda tangan 21 pemain Timnas. Sementara Victor mengikat kontrak dengan 24 pemain, Flypower 19 pemain, Li-Ning 9 pemain, Astec 8 pemain, Reinforce Speed (RS) 5 pemain serta Babolat 4 pemain . Dengan durasi kontrak 2 tahun, secara total ketujuh produsen apparel tersebut akan mengalirkan dana tak kurang dari 33 Miliar untuk mendukung para pebulutangkis Indonesia berlaga.

Kini kita tak akan lagi menjumpai jersey dengan logo sponsor yg sama di setiap pertandingan Timnas Bulutangkis Indonesia. Kontrak individu membuat senar raket para pemain bergambar logo yg bhineka. Seragam pemain Timnas pun menjadi lebih beraneka warna. Tontowi Ahmad-Lilyana Natsir akan mengenakan seragam serta perlengkapan pertandingan berlogo V dari Victor. Hendra-Ahsan masih akan mengusung logo YY Yonex, ad interim pemain tunggal seperti Simon Santoso serta Sony Dwi Kuncoro akan berseragam Li-Ning. Angga-Rian akan mengenakan Flypower serta Hayom Rumbaka akan membawa logo Astec. Lukhi Apri berseragam Babolat ad interim Hanna Ramadini mengikat kontrak dengan Reinforce Speed. Keunikan ada kepada pasangan ganda adonan Muhammad Rijal-Debby Susanto karena keduanya disponsori apparel yg tidak selaras. Debby membawa logo Li-Ning ad interim Rijal berseragam Yonex. Para pemain lain pun akan mengenakan seragam serta perlengkapan dari sponsor mereka masing-masing. Begitupun para pelatih kini memiliki sponsor individu. Christian Hadinata, Nova Widianto, serta Richard Mainaky ialah 3 dari sejumlah pelatih yg disponsori oleh Yonex. Sementara Liang Chiu Sia diikat kontrak oleh Victor.

Terobosan baru ini membuat Indonesia menjadi negara ASEAN pertama yg menerapkan kontrak individu serta menghapus kontrak kolektif untuk Timnas bulutangkisnya. Lain dari itu, sistem kontrak individu ini membuat nama bulutangkis Indonesia semakin terangkat dengan masuknya merek-merek berkelas dunia.

Li-Ning, brand ternama asal China yg berpusat di Inggris ini dikala ini ialah sponsor resmi Timnas Bulutangkis China. Sejumlah bintang bulutangkis China menjadi maskot utama Li-Ning. Sementara meski terdaftar sebagai merek China sejak 1968, Victor ialah nama besar di industri bulutangkis Korea Selatan. Sejumlah skuad utama bulutangkis Korea seperti Lee Yong Dae ialah maskot dari Victor. Babolat mungkin menjadi nama yg paling asing di telinga kita. Wajar karena merek asal Perancis ini baru menghasilkan raket kepada tahun 1995. Namun demikian Babolat ialah merek ternama di lapangan tennis dunia. Sementara itu Flypower serta Astec ialah brand unggul asal Indonesia yg dimiliki oleh legenda bulutangkis tanah air. Flypower dikibarkan oleh mantan juara dunia Heryanto Arbi ad interim Astec dibangun oleh pasangan suami istri peraih emas olimpiade Barcelona Alan Budikusuma serta Susi Susanti.

Memaksa Pemain Untuk Berprestasi

Bukan hanya menaikkan nilai tawar bulutangkis Indonesia di mata produsen dunia. Kontrak individu sebagai bagian dari industrialisasi bulutangkis juga dinilai sebagai satu dari cara untuk memacu prestasi atlet Indonesia yg dalam satu dekade terakhir menukik tajam.

Selama ini beberapa pihak mengkritik  kenyamanan pelatnas Cipayung membuat sejumlah pemain menjadi terlalu santai. Kontrak kolektif yg diterapkan kepada Timnas Bulutangkis Indonesia membuat pemain tak perlu susah payah memikirkan sponsor untuk berangkat mengikuti pertandingan dunia. Berprestasi baik atau selalu kalah tak akan membuat mereka kehilangan sponsor apabila harus mengikuti superseries atau grandprix gold. Inilah yg dianggap memanjakan pemain serta membuat mereka kurang termotivasi untuk menaikkan prestasi. Wajar apabila beberapa legenda bulutangkis dunia seperti Rudi Hartono kerap geram dengan sejumlah pemain yg tetap diberangkatkan ke ajang superseries meski prestasinya sudah dinilai mentok.

Kepengurusan baru PBSI di bawah Gita Wirjawan membaca indikasi kenyamanan itu. Selain menarik kembali sejumlah legenda bulutangkis Indonesia untuk menjadi pelatih serta pengurus PBSI, Gita yg merupakan menteri perdagangan menerapkan kontrak individu kepada seluruh penghuni timnas senior bulutangkis Indonesia.

Kontrak individu dengan 7 merek ternama ini memiliki nilai yg bhineka untuk setiap pemain atau pasangan. Nilai kontrak sponsor untuk pemain di Timnas berkisar dari 25 juta hingga milyaran rupiah. "Victor" mencatatkan nomor termahal dengan berani membayar masing-masing lebih dari 1 Milyar rupiah per tahun untuk Tontowi Ahmad serta Lilyana Natsir. Besarnya nilai kontrak Victor dengan pasangan ini sempat juga disinggung oleh komentator pertandingan final All England 2013 yg lalu. Kontrak inipun membuat Lilyana disebut-sebut menjadi pebulutangkis pelatnas dengan gaji terbesar.

Tontowi Ahmad & Lilyana Natsir bareng General Manager "Victor" usai penandatanganan kontrak individu pemain Timnas Bulutangkis Indonesia. Kontrak Tontowi & Lilyana masing-masing bernilai lebih dari 1 Milyar rupiah (dok. : https://www.victorsport.com/news_detail.html?id=1579)

Kontrak individu memang dianggap lebih mensejahterakan serta menaikkan pendapatan para pemain karena melalui sistem ini sponsor juga akan memberikan diskon di luar nilai kontrak untuk setiap capaian prestasi besar yg mereka ukir. Berprestasi baik serta meraih gelar-gelar juara di turnamen utama akan menaikkan nilai tawar Timnas sekaligus membuat nilai jual pemain bertambah. Para produsen yg berkepentingan menjaga serta menaikkan pamor brand mereka pun akan berlomba-lomba memperebutkan sang pemain dengan melakukan penawaran sebaik mungkin. Prestise sponsor pun meningkat apabila pemain yg dikontraknya meraih gelar juara.

Tapi di luar itu semua sistem kontrak ini mampu memacu pemain untuk terus berprestasi. Mereka dituntut lebih bertanggung jawab kepada diri serta prestasinya. Para pemain akan dipaksa untuk berprestasi demi menarik atau menaikkan sponsor mereka sendiri. Sebaliknya mereka tak dapat lagi nyaman apabila selalu kalah karena sponsor dapat jadi meninggalkan atau tak memperpanjang kontraknya. Tanpa sponsor pemain akan kesulitan mengikuti kejuaraan selanjutnya.

Asa Kembali Menguasai Arena

Indikasi dampak positif kontrak individu ini mulai terlihat di ajang All England 2013 lalu. Dibanding setahun kemarin, tahun ini Indonesia meloloskan lebih banyak pemain ke bebak perempat final  serta semifinal All England. Tiga pasangan ganda adonan bahkan berhasil mendominasi semifinal. Sementara pasangan ganda putra baru Hendra-Ahsan mampu mencapai semifinal. Capaian besar juga diraih tunggal putri Lindaweni, meski gagal melangkah jauh, ia mampu mengalahkan pemain utama China.

Semoga sistem kontrak baru ini bukan hanya membawa bulutangkis Indonesia ke persaingan industri olahraga modern semata. Lebih dari itu, semoga ini menjadi awal dari sebuah jalan bagi prestasi baru Indonesia untuk dapat kembali menguasai arena bulutangkis dunia karena sudah terlalu lama kita tak melihat Merah Putih dikibarkan paling tinggi di tengah-tengah bendera negara lain. Kita sudah rindu Indonesia Raya berkumandang di arena dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *