Kenapa Sepak Bola Jepang Bisa Maju

Kenapa Sepak Bola Jepang Bisa Maju

Image source: http://www.thesouthlake.com/wp-content/uploads/2018/02/19.jpg

Kenapa Sepak Bola Jepang Bisa Maju

Sore ini Kompas edisi online menayangkan berita yang menarik. Sebuah wawancara memakai pelatih timnas U-22 Jepang, Yushasi Yoshida. Ia membeberkan beberapa cara agar sepakbola Indonesia bisa semaju Jepang.

Kunci Kesuksesan Jepang

Kunci kesuksesan Jepang dimulai menurut tim nasional grup umur. Federasi Sepak bola Jepang (JFA) memiliki sistem pembinaan buat beberapa grup umur, seperti U-10, U-13, U-14, & U-16. Para anak akan dididik & dipersiapkan buat mencapai level lebih tinggi di timnas senior. Para pemain muda ini dilatih buat memiliki teknik bermain yang baik & berlatih setiap hari.

Ajari terus pemain sejak mereka masih muda, ujarnya.

Selain itu JFA maupun membuat sistem kompetisi yang selalu mengadakan pertandinagn setiap minggu, buat semua grup kategori umur. Hal ini dilakukan agar mereka memiliki jam terbang yang banyak, seperti yang maupun dilakukan di Eropa.

Untuk sistem timnas, muncul 2 kategori. Tim sepakbola pelajar & satu lagi tim yang berasal menurut klub. JFA membuat banyak pertandingan yang memungkinkan ke 2 timnas ini saling bertemu. Ada maupun talent scout yang dimiliki sang setiap klub & akademi grup umur.

Belajar menurut Jepang

Menarik sekali membaca berita tersebut. Ada banyak hal baik yang bisa dicontoh menurut sepakbola Jepang. Jepang yang dulu dipercaya sebelah mata kini menghasilkan pemain-pemain cemerlang yang bermain di perserikatan-perserikatan besar Eropa seperti Shinji Kagawa & Keisuke Honda.

Indonesia, khususnya PSSI sebenarnya bisa belajar banyak menurut ini. Negeri kita yang penduduknya 230 juta lebih, tentu mutlak memiliki anak-anak yang berbakat. Lihat saja Andik Vermansyah yang memukau beberapa tahun belakangan atau, Tristan Alif yang membuka mata mayapada, bahwa anak-anak Indonesia maupun berbakat. Aika muncul sistem pembinaan usia dini yang baik, bukan tak mungkin timnas Indonesia akan bisa mewarnai klub-klub besar Eropa beberapa tahun lagi.

Sistem Liga Spanyol & Jerman

Kuncinya memang muncul di pembinaan pemain muda & pengaturan kompetisi. Aika kita menengok bagaimana kesuksesan Spanyol di Piala Eropa, kita bisa menilik bagaimana Liga Spanyol diatur agar bakat-bakat lokal bisa mendapat tempat di klub. Peraturan di Liga Spanyol hanya memberi jatah 3 pemain asing di setiap klub. Artinya, kebijakan ini akan membuka kesempatan seluas-luasnya buat pemain lokal Spanyol.

Vicente del Bosque tentu tak akan sulit membentuk timnas, sebab di perserikatan, pemain spanyol bertebaran begitu banyak di setiap klub. Akademi-akademi berkualitas maupun berhasil melahirkan pemain-pemain bertalenta. Lihat saja aksi Jordi Alba di Piala Eropa lalu, ia merupakan jebolan akademi La Masia milik Barcelona.

Sistem pembinaan di Jerman mirip memakai Spanyol. Bahkan di Jerman, selalu muncul pemain muda yang bercokol di skuad primer. Lihat saja Mario Gotze, Andreas Schurrle, Marco Reus ataupun Marc Andre ter Stegen. Mereka artinya produk berkualitas hasil pembinaan jangka panjang. Ter Stegen bahkan sempat menjadi kiper ketiga Jerman sebelum berangkat Ke Euro 2012, padahal usianya baru 20 tahun.
Tidak bisa Instan

Memang, menghasilkan sesuatu yang besar tak bisa dilakukan memakai instan. Pengiriman pemain ke Belanda, Italia, Uruguay ataupun Brazil mungkin membuat pemain belajar lebih baik, sebab tertentu belajar ke negeri-negeri yang budaya sepakbolanya bertenaga. Tetapi hasil yang didapat menurut program instan ini belum menggembirakan.

Jepang sudah membuktikan memakai pembinaan jangka panjang yang sabar & bertahap, bakat-bakat besar bisa lahir & berkembang. Mereka bukan cuma menjadi atlet-atlet yang bersinar di Jepang, melainkan bisa bicara di sepakbola Eropa. Kalau Jepang bisa, Indonesia maupun bisa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *