Komentator Boleh Emosional

Komentator Boleh Emosional

Ini bukan goresan pena pertama yang membahas komentator siaran sepakbola. Gempita Piala Asia Tenggara 2010 yang akhirnya ditakhta oleh Malaysia semalam menyisakan isu-isu garis kedua (second line) yang jua seru buat diperbincangkan. Ada sepakbola, ada suporter, tapi kali ini mari kita bahas sedikit problem komentator kita di tayangan televisinya. Di waktu komentatornya artinya orang Indonesia & membawakan pertandingan Timnas Indonesia, mereka lumrah bila bergembira waktu gol bagi tim kebanggaan tercipta & bicara memakai nada rendah waktu kebobolan lawan. Namun apakah di ranah profesional menjadi komentator dibolehkan mirip itu? Apakah setiap opini komentator wajib bernada emosional atau persuasif mengajak para penontonnya membela tim tertentu? Komentator memang biasanya identik memakai tayangan pertandingan olahraga atau tragedi vital. Artikata.com mendefinisikannya menjadi 1. orang yg (pekerjaannya) mengomentari atau mengulas suatu isu dsb; juru ulas. Olahraga sepakbola menjadi seru waktu ditayangkan memakai pengisi suara komentator. Tujuannya terang, yaiut buat menyampaikan gambaran lebih baik wacana aksi-aksi para atlet yang berlaga di lapangan. Secara fungsional jua diperuntukkan membantu para pemirsa yang kebetulan menderita tunanetra & hanya bisa menikmati suara. Tinggi rendah/naik-turunnya suara komentator memang selalu memengaruhi aliran emosi penontonnya. Di AS, komentator tidak hanya dipakai waktu tayangan pribadi teve, akan tetapi jua di lapangan pertandingan secara pribadi di depan para suporter. Di Indonesia hal serupa telah dipakai dalam kejuaraan beberapa olahraga yang sering dipadati penonton mirip pacuan kuda, futsal, & bola basket jalanan (streetball). Komentator menyampaikan keterangan konvoi pemain atau bola, keadaan visual yang sifatnya insidental, maupun perseteruan-perseteruan yang ada selama pertandingan. Pada hakikatnya, fungsi pokok inilah yang mengharuskan seorang komentator bersikap netral terhadap seluruh penontonnya, tidak terkecuali para pendukung tim lawan. Semalam, dalam gelaran Final leg kedua Piala AFF yang mempertemukan tuan tempat tinggal Indonesia menjamu Malaysia yang akhirnya memanangkan agregat 4-2 buat tim tamu, komentator siaran pribadi nampaknya sering terbawa emosi. Ini artinya membuktikan cantik lantaran menegaskan dukungan kolektif rakyat Indonesia kepada tim pahlawan sepakbolanya. Namun yang disayangkan, beberapa kali 2 orang komentator teve itu terkesan terlalu menggiring opini publik menjadi akibatnya (ekstremnya) mereka sendiri ibarat penonton pertandingan tak ubahnya sedang berada di tempat tinggal sendiri, bukan di stasiun teve yang notabene siarannya bisa ditangkap jua di negara-negara tetangga. Lebih parahnya lagi, sangking terbawa emosi beberapa kali komentator keceplosan & galat bicara. Berdasarkan pengamatan, komentator kita semalam melontarkan beberapa pernyataan yang galat: Pertama, komentator mengungkapkan (lebih kurang berbunyi): "Inilah Safee Sali, pemegang top scorer ad interim Piala AFF memakai menyumbangkan 5 gol buat Indonesia."  Komentar ini disebutkan waktu Safee baru saja memasukkan satu gol tambahan ke gawang Timnas di Babak kedua. Padahal, seharusnya yang dimaksudkan artinya 5 gol buat Malaysia. Kedua, komentator mengungkapkan: Sejauh ini Safee Sali seorang penyerang kredibel yang membobol gawang Malaysia sebesar 2 kali. Dan yang ini seharusnya disebutkan membobol gawang Indonesia. Terbalik, bukan! Mungkin poly yang tidak menyadari, tapi bila kita menyampaikan perhatian lebih, maka poly kesalahan penyebutan (keceplosan) lain yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang komentator berpengalaman. Okey, insan tempatnya galat, berarti ini buat pelajaran beserta. Tapi, memakai kadar emosional & berkesan menggiring opini publik secara hiperbola itu bukannya jua menjadi hal bias bagi profesionalisme media menjadi penyiar fakta kepada publik & dituntut bersikap netral? Apa bedanya memakai pemberitaan problem dugaan korupsi seorang pejabat yang jua pemilik stasiun teve? Apakah pemberitaan yang di-lunak-kan oleh media tertentu lantaran yang bersangkutan artinya pemilik perusahaannnya jua dibenarkan? Dengan mempertaruhkan integritas pemberitaan? Well, entahlah apakah komentator bola di siaran pribadi jua mengkategorikan pers atau tidak, belum ada kepastian. Apakah komentator bola jua wajib netral? Itu tugas Dewan Pers yang menentukan. Masyarakat hanya sebatas konsumen, pengamat, & pengkritik yang sejatinya jua wajib menyampaikan solusi. Euforia sepakbola Indonesia waktu ini menjadi membuktikan positif bagi kemajuan mental juara keolahragaan negeri kita. Masalah-problem mirip Komentator yang terlalu emosional waktu ini boleh dianggap tidak begitu vital lantaran lebih poly problem yang lebih parah lantaran menyangkut pemanfaatan popularitas satu pihak guna menciptakan citra diri pihak lain. Tapi, bila hal-hal separah itu saja tidak diperhatikan, Apa istilah dunia? Tayangan sepakbola kita akhir-akhir ini menyampaikan poly warna di poly sisi. Masyarakat kita menjadi lebih perhatian kepada hal-hal mini yang dulu mungkin dianggap tidak terlalu vital. Sekarang segala hal wacana usaha timnas & pihak-pihak yang mendukungnya menjadi sorotan & selalu asik diperbindangkan. Masyarakat bak menikmati menjadi komentator-komentator tidak pribadi yang terkadang malah menyampaikan pandangan yang tajam memakai analisis yang lebih mendalam daripada komentator profesioanl di layar kaca. Bahkan komentar-komentar mirip "Lho kok itu kameramen lapangannya lebih sering sorot ke Manohara & Luna Maya ya daripada kepada pertandingan-pertandingan sebelumnya?" & "Emm…. Pantas timnas gak juara. Lunmay ikut nonton sih! Apalagi Nurdin! Beuh…." menjadi bahan tertawaan lucu akan tetapi bila disimak lebih jeli mengandung pesan moral yang sangat strategis. Semoga ini menjadi pemugaran bagi kita seluruh. PSSI, Timnas, para kerabat kerja stasiun teve, Suporter yang semakin damai & antilaser, Para Selebritis yang mendadak bolamania, Pejabat yang tiba-tiba menggelontorkan pemberian , Panitia ticketing yang masih perlu belajar, & keluarga besar sepakbola Indonesia yang selalu setia. Ini artinya awal kebangkitan kita menjadi bangsa. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *